Kamis, 06 November 2014

DIARY 7

Cahaya dilangit itu

Seperti ku terbang di langit tinggi
temui satu titik cahaya-Mu
ku lihat ada malaikat kecilku
membisikkan ku tuk tetap disini

NoName (07/11/2014 08:25)

DIARY 6


Bergerak

Bergerak maju bukanlah jalan kebelakang
Bergerak mundur bukanlah jalan kedepan
Bukan karena apa yang menjadi acuan
Tetapi melihat bagaimana kaki melangkah
Badan tak perlu pusing berhadap
Hanya tujuan dan niat tekad
Yang akan mengarahkan kita bergerak
Maju atau mundur

Dhesyarba (06/11/2014 7:36)

DIARY 5


KOSONG

Pena yang mengarahkanku kembali untuk menyentuh sekumpulan hasil olahan serbuk kayu yang mulai rentan dan menjadikannya sebagai tempat sebuah curahan hati bersenandung.
Dhesyarba (06/11/2014 07:30)

DIARY 4


Jiwa yang pergi

Selamat pagi jiwa yang mulai pergi
Aku biarkan pisau itu mengiris hati ini
Menemani pagiku yang tak pernah berarti
Raga ini semakin tak bernyali
Separuh jiwa kini terbang entah kemana
Mungkin ia yang pernah singgah mulai enggan
Enggan menerima raga yang cacat ini
Mengapa harus merenggang dan lepas
Bahkan perjlanan kita hampir sampai diujung perkara
Tapi seperti kapas yang terbang menari begitu saja
Kini tiada lagi raga dan jiwa yang menemani
Bosan, marah, benci?
Ah, itu sudah biasa
Hati ini sudah biasa diiris seperti manggis
Tanpa bercak merah yang mengalir
Tapi sangat pedih dan mematikan batin

Dhesyarba (2014/11/06 07:16)

DIARY 3


Topeng

Sajak pagi ini melantunkan melodi
Melodi yang entah berbisik atau bernyanyi
Aku terkapar diantara dua hati
Mungkin wajah pagi ini berseri
Tapi akankah kalian tahu remuk hati ini?
Berpikirlah..
Sayatan untaian kata itu membekaskan perih
Sungguh sampai saat ini aku belum mampu mengerti
Mengapa aku selalu bersandiwara dibalik ini
Aku bersembunyi dibalik muka indah saat ini
Entah sampai kapan raga menjadi ragu untuk bersenandung kembali
Dibalik tirai itu, kini aku menitipkan langkahku yang semakin mati
Betapa letihnya aku terima semua yang pahit
Mata saja sudah enggan melihat deretan nyali
Yang semakin hari semakin ingin pergi
Dan takkan kembali..

Dhesyarba (2014/11/06 07:07)

DIARY 2


GALAU

Aku mulai menyapa bintang yang menari dengan riangnya
Aku sentuh lembut jari jemarinya
Dan ku sampaikan pesan lewat raut wajahku yang semakin muram
Bintang..
Lihatlah aku !
Pandangi setiap garis wajahku !
Apakah aku lesu atau bahkan kaku?
Entahlah..
Hujan pun kini tidak mampu menjelaskan betapa remuknya relung hati ini
Seakan akan perang telah dimulai
Membuat hati ini semakin berderup dengan kencangnya
Sakitkah?
Iya
Jawabku dengan nada yang bagaikan kerupuk sudah habis daya tahan tubuhnya
Aku pun tak mengerti harus menorehkannya dengan cara yang entah bagaimana
Tinta saja seakan akan tidak ingin lagi menorehkan semua diatas kertas kusut
Yang kini mulai merobekkan dirinya
Tangan ini enggan mengukir sajak sajak manis seperti cookies
Tuhan, angkatlah rasa ini
Biarkan aku merangkak perlahan menggapai bintang yang lain
Bisakah?
Entah sampai kapan.

Dhesyarba (2014/11/05 23:49)

DIARY 1


Sunyi yang berbisik

Suara derit pintu mulai menembus gendang telingaku
Getar kasur pun semakin hilang dalam lamunanku
Raga ini seakan ingin terlepas dari
Liku..
Kaku..
Semu..
Alunan melodi yang perlahan menggapai tanganku
Kini mengajakku terbang ke langit sendu
Senja..
Kapan kau datang memelukku seperti pagi itu?
Aku merindukanmu yang slalu menghangatkanku
Kini kau perlahan melangkah pergi dari pelukanku
Hanya suara detak jantung yang menemani lukaku
Di pucuk pohon itu dedaunan melambaikan lembaran kearahku
Entah apa yang dikatakannya kepadaku
Aku tak tau..
            Di tengah gelapnya malam, bulan bersembunyi di awan kelabu
Malu menampakkan senyum kilau itu
Bintang pun tak ingin bersandar dipundakku
Lelah terhadap orang yang ku ijinkan mengisi relung hatiku
Tetapi enggan bersinggah dihatiku yang telah lama beku
Jam dinding pun semakin cepat menyapa sederet angka itu
Memutar jemarinya dan melenggang tanpa berharap menjadi lesu


dhesyarba (2014/11/05 00:01)